Minggu, 12 Februari 2012

Si Penulis Sajak

By : Anne April



 Tingkat kesabaranku sudah mulai memuncak dan berubah menjadi sebuah kekesalan. Sebulan belakangan ini, karya tulisku tak pernah dimuat lagi dikoran. Keaktifanku dalam harian Jambi pun seakan-akan musnah tergantikan sosok lelaki yang karyanya kuakui cukup memukau dengan permainan diksi kata yang sangat sempurna. Hatiku terus bertanya-tanya, siapakah dirinya karena ku hanya mengetahui nama. Hari-hari kugunakan selalu untuk menulis karya baru dan kembali kukirimkan, tetapi hasilnya nihil.
Pagi ini, ku dapati seorang lelaki muda, pengajar baru sastra bahasa indonesia memasuki kelasku dan memperkenalkan diri. Tubuhnya tinggi menjulang, paras wajah dihiasi dengan senyumannya yang manis, beralis tebal, hidung mancung dan berkulit putih. Sangat sempurna dimataku dan teman-teman yang lain. Tapi begitu terkejutnya aku saat ia menyebutkan sebuah nama yang membuat perhatianku hanya tertuju padanya. Nama dari seorang penulis yang saat ini karyanya mulai memudarkan keaktifanku sebagai penulis. Robby Revandra, nama guru baruku sama seperti nama penulis itu. Dan ternyata memang ia lah yang kucari selama ini. Ia menceritakan siapa dirinya dan kekagumannya pada seorang siswi SMA bernama Anindhita Geovani yang menurutnya memiliki talenta dan karya tulis yang sangat menarik. Aku tersentak sejenak ketika ia menyebutkan nama lengkapku. Fikiranku hanya berkata, “berarti ia mengetahui siapa aku” dan ketika pandanganku kembali padanya, senyuman manispun dilontarkan padaku.
Hari terus berjalan bagai bumi yang berputar mengkibatkan siang dan malam di tengah hati yang termangu, begitulah kisahku dan dirinya. Ia guru yang sangat memiliki kreatif karya seni yang sangat tinggi dan juga kepeduliannya padaku untuk membantu mengasah kemampuan dasarku yang telah ada. Itu semua membuat kita seperti sahabat. Di waktu luang, kami selalu bertukar pikiran untuk memberikan sebuah karya dengan memadukan rangkaian-rangkaian kata indah bermakna sempurna  yang memang sangat memukau. Tak hanya dalam hal kreatif karya, ia pun mengetahui segala persoalan pribadi yang melilit hidupku selama ini. Beberapa nasihat dan motivasi yang ia berikan selalu terekam erat di otakku. 
Tetap saja, perjalanan kami, selama aku duduk di bangku Kelas 3 SMA tak pernah terputus hingga sampai suatu ketika pengumuman kelulusan Ujian Nasional memberikan hasil yang sangat memuaskan bagiku. Terlebih lagi, aku diterima masuk salah satu Universitas elit dan bergengsi di Jakarta, yaitu Universitas Indonesia Fakultas Kedokteran yang kuidam-idamkan selama ini sebagai siswi undangan yang berprestasi. 
Aku tahu, ia sangat merasa kehilangan sama sepertiku yang kehilangan sosok seorang guru dan sahabat yang selama ini membantuku untuk mengapai segala mimpi dan harapan. Saat perpisahanpun tiba, beberapa kata penuh makna ia sampaikan. 
“Saya berdiri disini hanya untuk menyampaikan sebuah kata yang tak bernilai harganya. Siapa kamu? Kamu akan tetap menjadi kamu. Kamu, Dia dan Mereka. Berjuang pada titik yang sama demi mencapai pengharapan yang sempurna. Siapa kamu? Kamu yang berada di hadapku, penuh dengan kegembiraan untuk menggapai segala asa. Semangat dan harapan tinggi diletakkan bagai dinding kokoh yang takkan pernah hancur ditelan masa. Kamu, Dia dan Mereka. Telah terukir kisah kita bersama diatas kertas suci tak bernoda yang dihiasi sajak-sajak halus penghapus kesedihan hati. Tetaplah berusaha menggapai cita untuk semua.” Mendengar sajak singkat darinya, para guru dan siswa-siswi memberi tepukan tangan yang sangat meriah. Ia lalu menghampiriku kemudian bertanya tentang kabar kuliahku. 
“ Vanny di terima masuk UI sebagai siswi Undangan dan masuk fakultas kedokteran yang selama ini vanny inginkan,” Ujarku dengan ekspresi senyuman yang sangat menggembirakan. Ia lalu menepuk lenganku.
“ Semua yang kamu terima saat ini adalah hasil dari kerja keras dan ketekunanmu. Saya merasa cukup kehilangan seorang siswi yang sangat berprestasi dengan cerita hidup dan beberapa sajak yang terlalu memikat hati yang selama ini membuat saya belajar dari kesalahan diri. Tapi teruslah menggapai mimpi layaknya bunga yang tak pernah ingin mati dan terus berkembang hingga suatu saat nanti memang harus terhenti,” Tuturnya padaku.
“Senyuman tetap menjadi senyuman. Kehilangan ini bukan seperti mati dalam peti. Tapi aku akan kembali dengan segudang prestasi yang tak pernah kau ketahui. Aku akan menjadi siapa aku seperti pada sajakmu yang lalu kemudian terbang bersama sajak-sajak manis  yang tersimpan rapi di memory perjalanan panjang kisah kita menggapai mimpi. Kau takkan pernah kehilanganku, karena sajak kita seperti angin yang selalu menemani diri sebagai penyejuk jiwa yang sepi. Ini bukan perpisahan, Pak! Semua akan kembali menjadi lebih baik, kau tetaplah sahabat yang tak pernah terganti.” Kataku dengan beberapa sajak khusus untuk dirinya. Beberapa tetes air matapun membasahi wajahnya dan wajahku. Ini adalah akhir cerita dari kisah Si Penulis Sajak. Tapi semua ini bukanlah akhir bagiku. Tetap terus berkarya dan menggapai segala asa. Aku yakin bahwa Kami akan bertemu kembali karena ia dan sajaknya adalah sahabat dalam sepi yang tak pernah mati.
Hujan Pagi yang Senyap, agustus 2011

Tidak ada komentar:

Posting Komentar