Tingkat kesabaranku
sudah mulai memuncak dan berubah menjadi sebuah kekesalan. Sebulan belakangan
ini, karya tulisku tak pernah dimuat lagi dikoran. Keaktifanku dalam harian
Jambi pun seakan-akan musnah tergantikan sosok lelaki yang karyanya kuakui cukup
memukau dengan permainan diksi kata yang sangat sempurna. Hatiku terus
bertanya-tanya, siapakah dirinya karena ku hanya mengetahui nama. Hari-hari
kugunakan selalu untuk menulis karya baru dan kembali kukirimkan, tetapi
hasilnya nihil.
Pagi ini, ku
dapati seorang lelaki muda, pengajar baru sastra bahasa indonesia memasuki
kelasku dan memperkenalkan diri. Tubuhnya tinggi menjulang, paras wajah dihiasi
dengan senyumannya yang manis, beralis tebal, hidung mancung dan berkulit
putih. Sangat sempurna dimataku dan teman-teman yang lain. Tapi begitu
terkejutnya aku saat ia menyebutkan sebuah nama yang membuat perhatianku hanya
tertuju padanya. Nama dari seorang penulis yang saat ini karyanya mulai
memudarkan keaktifanku sebagai penulis. Robby Revandra, nama guru baruku sama
seperti nama penulis itu. Dan ternyata memang ia lah yang kucari selama ini. Ia
menceritakan siapa dirinya dan kekagumannya pada seorang siswi SMA bernama Anindhita
Geovani yang menurutnya memiliki talenta dan karya tulis yang sangat menarik. Aku
tersentak sejenak ketika ia menyebutkan nama lengkapku. Fikiranku hanya
berkata, “berarti ia mengetahui siapa aku” dan ketika pandanganku kembali
padanya, senyuman manispun dilontarkan padaku.
Hari terus berjalan
bagai bumi yang berputar mengkibatkan siang dan malam di tengah hati yang
termangu, begitulah kisahku dan dirinya. Ia guru yang sangat memiliki kreatif
karya seni yang sangat tinggi dan juga kepeduliannya padaku untuk membantu
mengasah kemampuan dasarku yang telah ada. Itu semua membuat kita seperti
sahabat. Di waktu luang, kami selalu bertukar pikiran untuk memberikan sebuah
karya dengan memadukan rangkaian-rangkaian kata indah bermakna sempurna yang memang sangat memukau. Tak hanya dalam
hal kreatif karya, ia pun mengetahui segala persoalan pribadi yang melilit
hidupku selama ini. Beberapa nasihat dan motivasi yang ia berikan selalu
terekam erat di otakku.
Tetap saja,
perjalanan kami, selama aku duduk di bangku Kelas 3 SMA tak pernah terputus
hingga sampai suatu ketika pengumuman kelulusan Ujian Nasional memberikan hasil
yang sangat memuaskan bagiku. Terlebih lagi, aku diterima masuk salah satu Universitas
elit dan bergengsi di Jakarta, yaitu Universitas Indonesia Fakultas Kedokteran
yang kuidam-idamkan selama ini sebagai siswi undangan yang berprestasi.
Aku tahu, ia
sangat merasa kehilangan sama sepertiku yang kehilangan sosok seorang guru dan
sahabat yang selama ini membantuku untuk mengapai segala mimpi dan harapan.
Saat perpisahanpun tiba, beberapa kata penuh makna ia sampaikan.
“Saya berdiri
disini hanya untuk menyampaikan sebuah kata yang tak bernilai harganya. Siapa
kamu? Kamu akan tetap menjadi kamu. Kamu, Dia dan Mereka. Berjuang pada titik
yang sama demi mencapai pengharapan yang sempurna. Siapa kamu? Kamu yang berada
di hadapku, penuh dengan kegembiraan untuk menggapai segala asa. Semangat dan
harapan tinggi diletakkan bagai dinding kokoh yang takkan pernah hancur ditelan
masa. Kamu, Dia dan Mereka. Telah terukir kisah kita bersama diatas kertas suci
tak bernoda yang dihiasi sajak-sajak halus penghapus kesedihan hati. Tetaplah berusaha
menggapai cita untuk semua.” Mendengar sajak singkat darinya, para guru dan
siswa-siswi memberi tepukan tangan yang sangat meriah. Ia lalu menghampiriku
kemudian bertanya tentang kabar kuliahku.
“ Vanny di
terima masuk UI sebagai siswi Undangan dan masuk fakultas kedokteran yang
selama ini vanny inginkan,” Ujarku dengan ekspresi senyuman yang sangat
menggembirakan. Ia lalu menepuk lenganku.
“ Semua yang
kamu terima saat ini adalah hasil dari kerja keras dan ketekunanmu. Saya merasa
cukup kehilangan seorang siswi yang sangat berprestasi dengan cerita hidup dan
beberapa sajak yang terlalu memikat hati yang selama ini membuat saya belajar
dari kesalahan diri. Tapi teruslah menggapai mimpi layaknya bunga yang tak
pernah ingin mati dan terus berkembang hingga suatu saat nanti memang harus
terhenti,” Tuturnya padaku.
“Senyuman
tetap menjadi senyuman. Kehilangan ini bukan seperti mati dalam peti. Tapi aku
akan kembali dengan segudang prestasi yang tak pernah kau ketahui. Aku akan
menjadi siapa aku seperti pada sajakmu yang lalu kemudian terbang bersama
sajak-sajak manis yang tersimpan rapi di
memory perjalanan panjang kisah kita menggapai mimpi. Kau takkan pernah
kehilanganku, karena sajak kita seperti angin yang selalu menemani diri sebagai
penyejuk jiwa yang sepi. Ini bukan perpisahan, Pak! Semua akan kembali menjadi
lebih baik, kau tetaplah sahabat yang tak pernah terganti.” Kataku dengan
beberapa sajak khusus untuk dirinya. Beberapa tetes air matapun membasahi
wajahnya dan wajahku. Ini adalah akhir cerita dari kisah Si Penulis Sajak. Tapi
semua ini bukanlah akhir bagiku. Tetap terus berkarya dan menggapai segala asa.
Aku yakin bahwa Kami akan bertemu kembali karena ia dan sajaknya adalah sahabat
dalam sepi yang tak pernah mati.
Hujan Pagi yang Senyap,
agustus 2011
Tidak ada komentar:
Posting Komentar