Karya : Sarah Indira KS
editor : Anne April
Nia,
begitu orang sering memanggil. Gadis berusia 17 tahun dengan rambut
pendek dan style tomboy sedang meneruskan sekolahnya di salah satu SMA
terpandang dikotaku. Bagiku dia adalah kakak kelas yang sangat perfect
dan mungkin ini hanya menurut sudut pandang pola pikirku saja karena aku
tak pernah mengetahui bagaimana penilaian orang lain terhadap gadis
manis berkaca mata itu. Di hari pertama hingga terakhir aku menjalani
mos, sosoknya tak pernah tampak dilingkaran mataku.
Ketika
tahun ajaran baru dimulai, sebuah organisasi disekolah mempertemukan
aku dan sahabatku dengannya. Begitu memukau, terpananya pandangan tanpa
kedipan entah apa yang sedang terpikirkan saat itu, kedua mata ini hanya
tertuju kepada sikap yang terpancar dari dalam diri gadis berzodiac
taurus tersebut. Tepat hari itu, Rabu adalah pertemuan pertama dimulai
serta bukan hanya sekedar sajak kebetulan kakak kelas yang memiliki
wajah indah itu merupakan ketua dari organisasi yang aku ikuti.
“Hai
semua! Adik-adik, nama kakak adalah Nia. Kakak duduk di kelas XI IPA.
Untuk saat ini kakak harap kalian bisa menyesuaikan diri, mendukung dan
terus mengikuti kegiatan ini ya,” Inilah sekedar sambutan kecil yang
disampaikan oleh gadis kelahiran April tersebut.
“Siap
kak! Kami pasti semangat!” teriakan serentak dariku dan teman-teman
yang memecahkan keheningan didalam ruang persegi yang kami semua berasa
didalamnya. Senyuman kecil dari bibirnya terbiaskan, tak seperti
senyuman yang biasa kulihat. Dia berjalan menuju pintu lalu meninggalkan
kami semua. Perbedaan waktu belajarlah yang membuatnya harus kembali
masuk kelas untuk melanjutkan pelajaran. Aku masuk kelas pagi, sedangkan
dia masuk kelas siang.
Lelahnya
hari menbuat aku untuk segera pulang kerumah menikmati teduh dan
sejuknya susasana. Diperjalanan pulang tak hentinya aku dan Sahabatku,
Vina, asyik memperbincangkan tentang sosok Kak Nia.
“Kamu lihat sikap Kak Nia tadi gak?” Pertanyaan Vina tertutur sembari menunjukkan wajah yang keheranan.
“Iya Vin, Kenapa?”Jawabku Ringkas, karena saat itu akupun tak tahu kalau Si Vina satu feeling sepertiku.
“Dia berbeda dari yang lain. eh, maksudku… Hmm.. begitulah intinya,” Kata-katanya mulai membuatku penasaran.
“Iyalah, Kakaknya cantik. Kita kan
baru saja mengenalnya. So, belum mengerti tentang bagaimana sifat
aslinya. Jangan-jangan cinlok ya? Eh, tapi kamu juga cewek, mana boleh
Falling in Love dengan Kak Nia,”
“Sembarangan kamu ya. Kita lihat sajalah bagaimana keadaan seterusnya,”Jawab Vina lesu karena sempat aku ledekin.
“Yowessss…
Kita pulang,” sebenarnya sejak tadi aku ingin bilang seperti itu juga
tapi apa mau dikata, aku hanya dapat berbicara lirih dalam hati.
Untuk
latihan yang kesekian kalinya, aku dan Vina semakin akrab dengan gadis
manis itu. Kami saling tukar menukar nomer handphone. Jujur, sebenarnya
aku tak sedikitpun mempunyai keberanian untuk menghubunginya. Tapi rasa
penasaranku terus menghantui hingga akhirnya jemariku menari indah
menyentuh layar Samsung Galaxy kesayanganku.
“Hy kak, aku yang tadi minta nomer kakak, disave ya kak.” Gaya
tulisan anak alay yang biasa sedikit lebay aku gunakan. Dan message
sent… tak lama kemudian handphoneku berdering, ternyata Kak Nia membalas
pesan singkatku. Ku buka pesan tersebut dengan jantung yang berdebar.
“Ok! Sip dek J. I’ll save. Tapi, kamu yang mana ya? Tadi kan ada dua orang,” ketika
membacanyapun aku hanya tertawa keras.yang terfikir adalah betapa
bodohnya aku, gak menuliskan nama. Kemudian aku tegaskan bahwa aku yang
mengenakan kacamata putih. Dia lalu meminta maaf. Hatiku menjadi tak
karuan, merasa bersalah karena aku yang salah. Aku termenung lalu
memberanikan diri membalas pesannya.
“Gak perlu mengucapkan maaf Kak, Aku juga yang salah. Lupa memberi nama. Senang rasanya bisa mengenal kakak,”
Setelah
ku tunggu lama, dia tak membalas pesanku. Mungkin telah berada dalam
indahnya buaian mimpi karena saat itu waktu menunjukkan pukul 23.45 WIB.
Pagi
yang cerah sedang bersama menikmati lagu-lagu grup band idolaku, The
Virgin. Sedang asyik mengikuti alunan nada dan lirik lagu, terlihat Vina
tergopoh-gopoh berlari menuju bangku tempat dudukku dikelas. Nafas yang tak teratur dan terengah-tengah ( Bahasa gaulnya, Nafas Cenat Cenut J ).
“Saraaaaaah! Semalam aku smsan sama Kak Nia. Ternyata dia sangat lucu dan seru,” Si pemilik nafas cenat-cenut itu bertutur.
“Oh
My God! Hanya mau bilang itu saja, kamu sampai lari-lari seperti
dikejar setan! Bodoh-bodoh!” Jawabku yang sedikit meninggi nadanya.
Lonceng
tanda istirahat sekolahpun dibunyikan. Diperjalanan menuju kantin aku
melihat Kak Nia piket menjaga UKS dengan teman dekatnya. Aku menuturkan
senyuman padanya dan dia juga membalas senyumanku.
Waktu yang terus berjalan tak pernah menunjukkan kata letihnya membuat aku mengetahui
siapa diri Kak Nia, walau hanya sekedar mengenal. Dan semua itu bukan
hanya sekedar berita simpang siur yang disampaikan dari mulut ke mulut,
tetapi aku juga memperhatikan secara langsung. Kak Nia memang bukan
Gadis Biasa dan sangat berbeda dengan teman-temannya yang lain. Sampai
detik ini aku belum mengetahui kebenaran tentang siapa Kak Nia yang
selalu kupikirkan. Aku takut dibilang lancang jika menanyakan hal yang
menjadi pertanyaan besarku kepadanya. Apa yang sesungguhnya ada pada
dia? Dan hanya waktu yang bisa menjawab setiap keraguan yang muncul.
Sebulan, waktu yang cukup lama aku lost contact
dengannya. Begitu pula kegiatan organisasiku yang tiba-tiba diliburkan
dengan berjuta kabar burung yang tersebar. Ada yang bilang kalau
organisasi ini tidak mendapat persetujuan dari yayasan,
ada yang bilang kalau guru pendampingnya keluar dari sekolah dan ada
yang bilang kalau Para kakak senior sedang mengusulkan proposal untuk
mengadakan pameran serta kabar terakhir yang paling akurat kudengar
adalah Kak Nia sering sakit hingga selalu menjadi absenan UKS dan Rumah
Sakit. Mengapa diliburkan? Jawabannya hanya satu. Kak Nia adalah Orang
yang sangat berpengaruh didalam organisasi ini, selain sebagai Ketua
Umum, Kak Nia jugalah sebagai Fasilitator yang mengajarkan kami karena
hanya dia yang mengerti tentang seluk beluk oraganisasi yang aku ikuti.
Organisasi ini merupakan salah satu organisasi disekolahku yang
mempelajari keseluruhan dari siklus kehidupan remaja. Mulai dari Teman
dan Sahabat, Orang Tua, Cinta dan Kasih Sayang, Seksualitas, Kesehatan
Reproduksi, Rokok hingga segala Jenis Narkoba. Bukan maksudnya gak ada
lagi kakak senior lain yang mengerti, tapi Kak Nia berasal dari keluarga
yang berkecimpung didunia kesehatan, kerena itulah dia dipercaya untuk
menanganinya. Jika harus ditanya apapun tentang kesehatan, Kak Nia
selalu menjawab secara detail dan semua itu sudah bagaikan sarapan
sehari-hari.
“Kak,
Kak Nia Kemana? Sudah lama aku gak lihat, Apa benar dia sakit?” Tanyaku
kepada Kakak Kelas yang kebetulan teman dekat Kakak idolaku tersebut.
“Iya dek. Dia sekarang di Rawat di Rumah Sakit,” ini jawaban yang sangat mengagetkan bagiku.
“Sejak kapan kak? Sakit apa?”tanyaku dengan ribuan pertanyaan.
“gak
tahu karena kakak belum dapat kabar darinya.” Pembicaraan kami
terhenti. Aku dan Sahabat Kak Nia berpisah, Karena saat itu aku
terburu-buru mau pergi ke toilet.
Jam
pelajaran telah usai. Aku menghampiri taman sekolah yang biasa
dijadikan Kak Nia sebagai tempat pelepas kesendirian. Aku termenung.
Hati mulai bertanya dan otakku kembali berpikir. Kak Nia tak terlihat
seperti orang yang sedang mengidap penyakit parah. Keceriaannya, senyum
manisnya dan dia selalu kuat. Aku salut dengannya. Aku merasa bahwa aku
takkan sanggup untuk menjalani hidup sepertinya. Hanya satu hal yang
menjadi sebuah penyesalanku saat ini, yaitu tak pernah sekalipun aku
menjenguknya selama dia sakit. Itu membuatku merasa bukan seperti teman
untuknya. Dekat dengannya saja aku sudah merasa sangat tak enak. Menatap
wajah indah dan senyuman manis dari bibirnyapun aku tak kuat karena
dapat membuatku menangis. Ditambah lagi mendengar kabar bahwa dia sakit.
Betapa menderitanya menjadi dia, banyak tersimpan berjuta harapan yang
dia pendam. Tetapi aku yakin, Kak Nia bukanlah Gadis yang lemah dan
mudah menyerah! Dia akan bangkit di balik keterpurukannya karena Dialah
gadis tangguh yang kujadikan sebagai inspirasi dan semangatku yang kuat.
Kak Nia pasti akan mewujudkan segala keinginan serta cita-citanya J.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar