By : Anne April
Aku merasa iri
dengan teman-temanku yang lain. Selalu kulihat mereka berkumpul bersama
keluarga dirumah, saling bercerita, bertukar pikiran, dan saling support.
Diantara mereka terlihat memiliki kebersamaan. Keadaanku dan merekapun jelas
sangat berbeda. Keluargaku serba berkecukupan, sedangkan mereka harus membantu
orang tua dulu agar mendapat uang untuk makan. Tapi aku tetap saja iri kepada
mereka. Orang-orang sering kali menilai bahwa kehidupanku sangat layak, memiliki
kesenangan dan apa yang diinginkan dapat dicapai dengan mudahnya. Tapi penilaian
mereka salah. Keluargaku adalah keluarga yang otoriter, keluarga yang dididik
secara keras. Sebelum mendapatkan semua yang kumiliki sekarang, orang tuaku
harus bekerja keras selama bertahun-tahun, bahkan akupun pernah merasakan hanya
makan nasi ditemani garam.
Ayah dan Ibuku
selalu menasihati agar aku dapat menjadi orang yang berguna dan seperti apa
yang aku dan mereka cita-citakan. Tetepi mereka selalu menuntut agar aku seperti
mereka dan dengan pendidikan yang lebih tinggi. Dibalik itu semua aku selalu
berfikir, Kapan kami mempunyai waktu untuk bersama? Mereka selalu saja sibuk.
Aku ingin mendapat belaian dari mereka barang sekali saja. Untuk apa aku
memiliki segalanya jika kami tak mempunyai kebersamaan. Aku tahu mereka sangat
menyayangiku, tapi mereka selalu
menutupinya dengan sikap keras. Aku selalu dimarahi untuk melampiaskan
kekesalan. Aku merasa sudah sangat terbiasa mendapat kekerasan dari mereka
bahkan jika sehari saja kami tidak berselisih aku pasti beranggapan aneh.
Terlalu sering aku bertanya dan mungkin
Allah sudah bosan dengan pertanyaanku yang berulang dan selalu sama, “Ya Allah,
Aku hanya ingin tahu bagaimana perasaan Ibuku yang sebenarnya. Aku tahu ia
sangat menyayangiku, tapi mengapa semua itu ditutupi dengan amarah yang selalu
ia perlihatkan kepadaku? Apakah ia sudah tidak menyayangiku lagi?” ucapan itu selalu
tertutur dengan air mata yang berlinang.
Malam ini aku
dan Ibu berselisih lagi hanya karena aku menjemput adik yang pulang les dan
lupa memberi kabar. Sampai-sampai kepalaku dipukul oleh Ayah dan bagian belakang
telingaku bengkak membiru. Aku tak lebih seperti gadis yang cengeng, tapi
dihadapan mereka aku hampir tak pernah mengeluarkan setitik air mata.
Aku membuka
jendela kamar, dinginnya malam membalut tulang-tulangku dan rembulan tersenyum
indah mencoba menenangkan hati yang luka, tetapi hatiku tetap saja menuturkan
pertanyaan yang sama hingga aku terlelap diantara angin malam yang berhembus.
Tiba-tiba aku bangun dengan terkejut, perutku sangat sakit. Aku meyakinkan diri
apakah ini didunia nyata atau hanya dunia mimpi semata. Tetapi tak ada satupun
jawaban yang kuterima karena sakit yang begitu dasyat aku rasakan. Aku
berteriak tapi tidak ada orang yang mendengar. Tak lama kemudian datanglah
seorang wanita yang cantik, berpakaian putih layaknya perawat dan seseorang
yang telah meninggalkanku dengan membawa cintanya dan cintaku, yaitu Revan,
kekasihku yang telah meninggal enam bulan yang lalu karena kecelakaan yang tak
dapat diselamatkan lagi sebelum dilarikan ke Rumah Sakit.
Diantara
jeritan yang membuat gaduh, sosok Revan menggenggam erat tanganku dan membelai
rambutku seperti mencoba menenangkanku. Sedangkan wanita itu, mempersiapkan
sesuatu yang aku sendiri tidak tahu. Mereka meminta aku untuk tetap tenang,
tetapi tidak bisa. Sakit tersebut begitu menggerogoti tubuh dan membuat aku
semakin memberontak. Sakit yang belum pernah kurasakan sebelumnya. Aku mencoba
mengatur nafas dan kulihat wanita itu memberiku senyuman. Lalu kutatap mata
Revan, pandangannya sangat penuh arti seperti ada harapan yang besar. Kejadian ini
berlangsung lama dengan rasa sakit yang semakin hebat. Saat itu aku hanya
bertanya-tanya, “Apakah sebentar lagi aku akan mati? Apkah aku akan
meninggalkan dunia?” Semuanya kupasrahkan begitu saja. Terlihat bercakan darah
di tangan hingga lengan wanita itu. Setelah aku cubit tanganku sendiri dan terasa
sakit, perasaanku semakin kuat bahwa aku akan mati.
Dengan waktu
yang tidak singkat aku menahan sakit yang sangat hebat, tapi dalam sekejap semuanya menghilang. Tubuhku yang sangat lelah
terbaring dikasur seakan tak bernyawa, kulihat wanita itu memberikan seorang
bayi laki-laki mungil yang kemudian digendong oleh Revan. Aku heran, Apa yang
terjadi? Revan lalu mengazani bayi itu.
Perasaan
bahagia bercampur bingung, ditambah lagi hal seperti ini belum pernah kurasakan.
Diberikannya bayi mungil itu kedalam pelukanku dan rangkaian kata-kata yang
tersusun dari bibir Revan yang membuat aku meneteskan air mata.
“Ini jawaban
dari semua pertanyaan yang kamu pertanyakan kepada Allah sayang, Kamu merasakan
segalanya saat ini. Aku harap kamu mengerti, kejadian apakah ini. Bayi mungil
itu aku beri nama Rivaldsha Oktav Pratama Revandra. Kelak ia akan menjadi anak
yang shaleh, pintar, berbakti kepada orang tua dan bertanggung jawab. Itulah
doa setiap orang tua kepada anaknya,” Tutur Revan dengan senyumannya yang lepas
dan menghapus air mataku.
Aku merasakan
perasaan bagai seorang ibu. Kupeluk Rivald lalu kucium pipinya yang masih merah.
Hatiku tenang saat ia memberikan senyuman padaku. Tapi waktu berjalan sangat cepat
memisahkan kami, Revan berpamitan dengan membawa Rivald. Air mataku tak kunjung
berhenti hingga azan subuh pun menyadarkanku dari tidur panjang yang terasa
begitu nyata. Aku duduk diatas kasur, kuperhatikan disekujur tubuh pun basah
bermandikan keringat serta perasaan kehilangan menderu bagaikan jiwa yang
terpisah dari tubuh, sakit rasanya. Saat kupeluk boneka beruang kesayanganku,
terdengar bisikan halus ditelinga yang membuat aku terdiam.
“Jangan
menangis sayang, cepat atau lambat kamu akan mengerti arti dari semua kejadian singkat
ini dan perasaan yang kamu rasakan sekarang. Ini adalah jawaban dari pertanyaan
panjangmu, aku dan Rivald akan selalu disampingmu. Jangan pernah menangis, ini
hanya kejadian alam mimpi dan kamu adalah seorang gadis yang paling tegar yang
pernah kukenal,”
“Apakah
seperti ini juga yang dirasakan Ibuku?”
“Iya, Semua
yang kamu rasakan tadi pasti dirasakan oleh setiap Ibu, perjuangan antara hidup
dan mati. Sekarang kamu harus mengerti bagaimana perasaan Ibumu. Ikatan yang
paling kuat adalah ikatan seorang Ibu kepada anaknya. Dan suatu saat nanti kamu
akan mendapatkan apa yang kamu inginkan selama ini,” Perbincangan singkat itu sangat
jelas terdengar. Kini aku pahami apa yang terjadi. Air mataku terus mengalir,
aku mengerti. Mereka sangat menyayangiku. Tapi setiap orang tua tak ingin
anaknya tahu apa yang mereka rasakan. Tak ada Ibu yang tak menyayangi anaknya,
hanya saja anaknya yang tak pernah menyadari. Petualangan singkat malam itu,
membuat aku tersadar dan hati ini semakin tegar
untuk menghadapi perlakuan mereka. Perjuangan antara hidup dan mati
seorang ibu yang aku rasakan membuat aku memposisikan diri sebagai Ibu. Dan
sejak saat itu aku berhenti untuk mempertanyakan pertanyaan yang selalu
kutanyakan. Bahkan ketika mereka mengubah tiap detik waktu menjadi amarah, aku
hanya tersenyum manis didalam hati bahwa aku mengerti mengapa mereka melakukan
itu padaku. Semua ini bagaikan sebuah teka-teki yang terkunci dan aku menemukan
jawaban yang sangat berarti dialam mimpi.
Kamar Kosong, 27 Agustus 2011
Tidak ada komentar:
Posting Komentar