Minggu, 12 Februari 2012

Hati Seorang Ibu

By : Anne April

Aku merasa iri dengan teman-temanku yang lain. Selalu kulihat mereka berkumpul bersama keluarga dirumah, saling bercerita, bertukar pikiran, dan saling support. Diantara mereka terlihat memiliki kebersamaan. Keadaanku dan merekapun jelas sangat berbeda. Keluargaku serba berkecukupan, sedangkan mereka harus membantu orang tua dulu agar mendapat uang untuk makan. Tapi aku tetap saja iri kepada mereka. Orang-orang sering kali menilai bahwa kehidupanku sangat layak, memiliki kesenangan dan apa yang diinginkan dapat dicapai dengan mudahnya. Tapi penilaian mereka salah. Keluargaku adalah keluarga yang otoriter, keluarga yang dididik secara keras. Sebelum mendapatkan semua yang kumiliki sekarang, orang tuaku harus bekerja keras selama bertahun-tahun, bahkan akupun pernah merasakan hanya makan nasi ditemani garam.
 
Ayah dan Ibuku selalu menasihati agar aku dapat menjadi orang yang berguna dan seperti apa yang aku dan mereka cita-citakan. Tetepi mereka selalu menuntut agar aku seperti mereka dan dengan pendidikan yang lebih tinggi. Dibalik itu semua aku selalu berfikir, Kapan kami mempunyai waktu untuk bersama? Mereka selalu saja sibuk. Aku ingin mendapat belaian dari mereka barang sekali saja. Untuk apa aku memiliki segalanya jika kami tak mempunyai kebersamaan. Aku tahu mereka sangat menyayangiku, tapi mereka selalu  menutupinya dengan sikap keras. Aku selalu dimarahi untuk melampiaskan kekesalan. Aku merasa sudah sangat terbiasa mendapat kekerasan dari mereka bahkan jika sehari saja kami tidak berselisih aku pasti beranggapan aneh. Terlalu sering aku  bertanya dan mungkin Allah sudah bosan dengan pertanyaanku yang berulang dan selalu sama, “Ya Allah, Aku hanya ingin tahu bagaimana perasaan Ibuku yang sebenarnya. Aku tahu ia sangat menyayangiku, tapi mengapa semua itu ditutupi dengan amarah yang selalu ia perlihatkan kepadaku? Apakah ia sudah tidak menyayangiku lagi?” ucapan itu selalu tertutur dengan air mata yang berlinang.
 
Malam ini aku dan Ibu berselisih lagi hanya karena aku menjemput adik yang pulang les dan lupa memberi kabar. Sampai-sampai kepalaku dipukul oleh Ayah dan bagian belakang telingaku bengkak membiru. Aku tak lebih seperti gadis yang cengeng, tapi dihadapan mereka aku hampir tak pernah mengeluarkan setitik air mata. 
 
Aku membuka jendela kamar, dinginnya malam membalut tulang-tulangku dan rembulan tersenyum indah mencoba menenangkan hati yang luka, tetapi hatiku tetap saja menuturkan pertanyaan yang sama hingga aku terlelap diantara angin malam yang berhembus. Tiba-tiba aku bangun dengan terkejut, perutku sangat sakit. Aku meyakinkan diri apakah ini didunia nyata atau hanya dunia mimpi semata. Tetapi tak ada satupun jawaban yang kuterima karena sakit yang begitu dasyat aku rasakan. Aku berteriak tapi tidak ada orang yang mendengar. Tak lama kemudian datanglah seorang wanita yang cantik, berpakaian putih layaknya perawat dan seseorang yang telah meninggalkanku dengan membawa cintanya dan cintaku, yaitu Revan, kekasihku yang telah meninggal enam bulan yang lalu karena kecelakaan yang tak dapat diselamatkan lagi sebelum dilarikan ke Rumah Sakit. 
 
Diantara jeritan yang membuat gaduh, sosok Revan menggenggam erat tanganku dan membelai rambutku seperti mencoba menenangkanku. Sedangkan wanita itu, mempersiapkan sesuatu yang aku sendiri tidak tahu. Mereka meminta aku untuk tetap tenang, tetapi tidak bisa. Sakit tersebut begitu menggerogoti tubuh dan membuat aku semakin memberontak. Sakit yang belum pernah kurasakan sebelumnya. Aku mencoba mengatur nafas dan kulihat wanita itu memberiku senyuman. Lalu kutatap mata Revan, pandangannya sangat penuh arti seperti ada harapan yang besar. Kejadian ini berlangsung lama dengan rasa sakit yang semakin hebat. Saat itu aku hanya bertanya-tanya, “Apakah sebentar lagi aku akan mati? Apkah aku akan meninggalkan dunia?” Semuanya kupasrahkan begitu saja. Terlihat bercakan darah di tangan hingga lengan wanita itu. Setelah aku cubit tanganku sendiri dan terasa sakit, perasaanku semakin kuat bahwa aku akan mati.
 
Dengan waktu yang tidak singkat aku menahan sakit yang sangat hebat, tapi dalam sekejap  semuanya menghilang. Tubuhku yang sangat lelah terbaring dikasur seakan tak bernyawa, kulihat wanita itu memberikan seorang bayi laki-laki mungil yang kemudian digendong oleh Revan. Aku heran, Apa yang terjadi? Revan lalu mengazani bayi itu.
 
Perasaan bahagia bercampur bingung, ditambah lagi hal seperti ini belum pernah kurasakan. Diberikannya bayi mungil itu kedalam pelukanku dan rangkaian kata-kata yang tersusun dari bibir Revan yang membuat aku meneteskan air mata.
 
“Ini jawaban dari semua pertanyaan yang kamu pertanyakan kepada Allah sayang, Kamu merasakan segalanya saat ini. Aku harap kamu mengerti, kejadian apakah ini. Bayi mungil itu aku beri nama Rivaldsha Oktav Pratama Revandra. Kelak ia akan menjadi anak yang shaleh, pintar, berbakti kepada orang tua dan bertanggung jawab. Itulah doa setiap orang tua kepada anaknya,” Tutur Revan dengan senyumannya yang lepas dan menghapus air mataku.
 
Aku merasakan perasaan bagai seorang ibu. Kupeluk Rivald lalu kucium pipinya yang masih merah. Hatiku tenang saat ia memberikan senyuman padaku. Tapi waktu berjalan sangat cepat memisahkan kami, Revan berpamitan dengan membawa Rivald. Air mataku tak kunjung berhenti hingga azan subuh pun menyadarkanku dari tidur panjang yang terasa begitu nyata. Aku duduk diatas kasur, kuperhatikan disekujur tubuh pun basah bermandikan keringat serta perasaan kehilangan menderu bagaikan jiwa yang terpisah dari tubuh, sakit rasanya. Saat kupeluk boneka beruang kesayanganku, terdengar bisikan halus ditelinga yang membuat aku terdiam.
 
“Jangan menangis sayang, cepat atau lambat kamu akan mengerti arti dari semua kejadian singkat ini dan perasaan yang kamu rasakan sekarang. Ini adalah jawaban dari pertanyaan panjangmu, aku dan Rivald akan selalu disampingmu. Jangan pernah menangis, ini hanya kejadian alam mimpi dan kamu adalah seorang gadis yang paling tegar yang pernah kukenal,”
 
“Apakah seperti ini juga yang dirasakan Ibuku?”
“Iya, Semua yang kamu rasakan tadi pasti dirasakan oleh setiap Ibu, perjuangan antara hidup dan mati. Sekarang kamu harus mengerti bagaimana perasaan Ibumu. Ikatan yang paling kuat adalah ikatan seorang Ibu kepada anaknya. Dan suatu saat nanti kamu akan mendapatkan apa yang kamu inginkan selama ini,” Perbincangan singkat itu sangat jelas terdengar. Kini aku pahami apa yang terjadi. Air mataku terus mengalir, aku mengerti. Mereka sangat menyayangiku. Tapi setiap orang tua tak ingin anaknya tahu apa yang mereka rasakan. Tak ada Ibu yang tak menyayangi anaknya, hanya saja anaknya yang tak pernah menyadari. Petualangan singkat malam itu, membuat aku tersadar dan hati ini semakin tegar  untuk menghadapi perlakuan mereka. Perjuangan antara hidup dan mati seorang ibu yang aku rasakan membuat aku memposisikan diri sebagai Ibu. Dan sejak saat itu aku berhenti untuk mempertanyakan pertanyaan yang selalu kutanyakan. Bahkan ketika mereka mengubah tiap detik waktu menjadi amarah, aku hanya tersenyum manis didalam hati bahwa aku mengerti mengapa mereka melakukan itu padaku. Semua ini bagaikan sebuah teka-teki yang terkunci dan aku menemukan jawaban yang sangat berarti dialam mimpi.
 
Kamar Kosong, 27  Agustus 2011

Tidak ada komentar:

Posting Komentar