Judul buku : Salah Asuhan
Pengarang : Abdoel Moeis
Penerbit : Balai Pustaka
Cetakan : 39, 2009
Tebal buku : vii + 273 halaman
Harga : Rp.
35.000,-
Hanafi, tokoh utama dalam novel “Salah Asuhan” karya Abdoel
Moeis. Novel ini sangat terkenal di zamannya, karena nilai-nilai yang
terkandung dalam cerita sangat mengakar dengan budaya adat istiadat yang
berlaku pada masa itu. Karya ini pada awalnya merupakan sebuah transformasi
lahirnya salah satu pembaharu kesusasteraan Indonesia mengenai pola pikir
masyarakat tentang pertentangan budaya perkawinan antara masyarakat Barat dan
Timur. Namun, sebagai pengarang roman “Salah Asuhan” Abdoel Moeis pada
akhirnya tetap memenangkan adat.
Melihat tema
dan gaya bahasa yang dipakai Abdoel Moeis pada umumnya berbeda dengan pengarang-pengarang lama yang
menceritakan tentang dewa-dewa, mambang, dan peri-peri yang umumnya bersifat
fantasi. Karena kehadiran salah satu karyanya roman “Salah Asuhan” Abdoel Moeis
pun di tempatkan sebagai salah satu pelopor Angkatan Balai Pustaka.
Abdoel Moeis dilahirkan di Solok, Sumatera Barat, tahun
1890 dan pernah belajar di Europese Lagere School dan selama 3 tahun mendapat
pendidikan STOVIA. Sejak mula-mula terbit (1928) buku ini sudah mengalami
berulang kali cetak ulang. Ini suatu pertanda bahwa roman tentang masyarakat
ini mendapatkan pembaca yang cukup luas.
Selain merupakan bacaan umum teryata salah asuhan juga digunakan untuk bacaan wajib para pelajar pada
zaman itu. Namun hingga kini karya-karyanya seperti Surapati, Robert Anak
Surapati dan Pertemuan Jodoh banyak digunakan Mahasiswa khususnya Jurusan Bahasa
dan Sastra Indonesia sebagai salah satu referensi atau bahan acuan untuk penelitian tugas akhir maupun tesis.
Ditinjau dari isi buku roman “Salah
Asuhan” karya Abdoel Moeis, secara garis besar memberikan dampak psikologis
terhadap perkembangan Kesusasteraan Indonesia, terutama dari segi isi yang mengajarkan
seseorang bertindak dan bersikap tidak seperti yang dilakukan oleh tokoh utama
“Hanafi”. Seharusnya tindakan dan sikap yang dilakukan oleh Hanafi dalam roman
“Salah Asuhan” mencerminkan budi pekerti dan nilai-nilai luhur yang dapat
diambil oleh pembaca. Seperti dalam kutipan berikut ini, ditampilkan begitu
jelas dan lugas tentang perilaku Hanafi yang kebarat-baratan.
“Sekonyong-konyong
kedua belah tangannya sudah memeluk pinggang Corrie, dan sambil menekan dada
gadis itu ke dadanya, diciumnyalah Corrie berkali-kali pada bibirnya, matanya,
pada keningnya dan pipinya.”
Roman ini berkisah tentang seorang anak laki-laki bernama
“Hanafi” yang dilahirkan dan
dibesarkan oleh seorang Ibu yang pada
saat itu tinggal di Solok. Ibu Hanafi termasuk
salah satu keluarga yang berkecukupan pada masa itu. Karena keinginan seorang
Ibu yang berharap anak satu-satunya menjadi orang pandai, melebihi orang-orang
yang ada di kampungnya, Hanafi pun di sekolahkan Ibunya di Betawi, dan tinggal
pada salah satu rumah milik orang Belanda. Namun
naasnya, karena sudah merupakan sebuah kebiasaan menjalani hidup dengan gaya
Eropa, Hanafi menganggap pola hidup yang sudah ia lewati sebagai hal yang lumrah
jika suatu saat ia bawa ketanah kelahirannya. Sebagai bukti, ia tidak
mempersoalkan jika seorang wanita tidak menutup auratnya. Ia malah mengangap itu
sebuah hal yang lazim. Hal-hal yang berhubungan dengan sopan santun, terasa
begitu jauh jika itu menjadi sebuah perdebatan antara Hanafi dan Corrie, wanita keturunan Eropa. Seperti dalam kutipan
berikut.
” Hanafi! Engkau juga yang mulai memperbincangkan tentang
adat lembaga serta tertib kesopanan masing-masing bangsa; engkau pun juga yang tak suka
mengindahkan atau mengakui atas adanya perbedaan adat lembaga antara bangsa
dengan bangsa. Setiap kita bertukar pikiran tentang hal itu, pada akhirnya
engkau senantiasa berkecil hati seolah-olah malulah engkau, bahwa engkau masuk
golongan Bumiputra, yang kau sangka bahwa aku menghinakannya. Bahwa
sesunguhnya kulitku berwarna pula, Ibuku perempuan Bumiputra sejati, meskipun
diriku masuk pada golongan bangsa Eropa. Dan sementara ...fasal
hina-menghina Bumiputra lebih banyak terdengar dari mulutmu sendiri dari pada
dari mulutku. Kita akan memperkatakan...”
Sekilas dari kutipan
di atas, Hanafi selalu mengidolakan atau membanggakan diri jika budaya Eropa yang sudah ia lalui
beberapa tahun di betawi merupakan sebuah keharusan yang ada dalam
kehidupannya. Termasuk pada saat ia harus kembali ke solok dan menjadi klerk di
kantor Asisten Residen Solok. Hingga tak lama pun ia diangkat menjadi Komis.
Tabiat Hanafi yang kebarat-baratan mengangap
suasana yang ia tempati dirumah Ibunya sebagai hal yang kolot. Seperti adanya
tempat sirih, tempat meludah dan dapur merupakan pantangan bagi Hanafi. Ia malah mengatakan
Ibunya kampungan. Tentunya dengan sikap Hanafi yang sangat bertentangan dengan
Ibunya telah membuat hati Ibunya sedih dan kecewa.
Di samping itu Hanafi hanya mau bergaul dengan orang yang
menurutnya pantas untuk ia jadikan teman bicara, khususnya yang memiliki
kecakapan dalam berbahasa Belanda. Parahnya, Hanafi mengangap adat lembaga sebagai
“kuno” agama Islam “tahayul”.
Akibat
sifat dan sikapnya yang suka merendahkan, ia tersisih dalam pergaulan. Tak ada
satu pun warga masyarakat yang mau mendekatinya, hanya Ibunyalah satu-satunya
orang terdekat sebagai teman dekatnya.
Tak ada satu pun yang harus ia hormati dalam keluarga besarnya termasuk
mamaknya, saudara kandung Ibunya.
Padahal biaya pendidikannya di Betawi tidak hanya hasil
dari uang pemberian Ibunya, malahan uang gaji mamaknya yang disisihkan
untuknya. Hanafi tetap tak menghiraukan jika Ibunya menjelaskan asal muasal
kenapa ia bisa sukses bergaul dan sekolah dengan orang Eropa di Betawi. Tidak hanya itu,
Hanafi pun berkeinginan untuk menikahi salah seorang wanita berkebangsaan Eropa
yang sudah jelas melanggar adat dan budaya yang sudah dipegang teguh oleh kedua
oarang tuanya. Karena jika pernihakan itu terjadi akan berdampak buruk bagi
mereka berdua. Secara tidak langsung mereka harus melepas nama kebangsaannya.
Namun di tengah-tengah cerita mereka bertemu dan menikah,
tapi pada akhirnya pernikahan mereka kandas akibat ulah Hanafi menuduh Corrie melakukan zina, dan
memutuskan untuk bercerai. Namun, tak lama kemudian Hanafi pun memutuskan
menikahi Rapiah, wanita pilihan Ibunya. Pernikahan
mereka dikarunia seorang anak laki-laki bernama Syafei, tapi harapan pernikahan
Rapiah tak semulus keinginannya untuk dicintai, dihargai, dihormati, disayang.
Malahan justru sebaliknya Rapiah selalu mendapat tekanan, bentakan seperti
pembantu. Namun Rapiah tetap bertahan demi anaknya Syafei dan Ibu mertuanya.
Pada akhir cerita Hanafi mendapatkan penyakit keras yang
sukar disembuhkan dokter, hingga dengan kata-kata terakhirnya ia menyesali apa
yang telah ia perbuat semasa ia hidup. Ia mengakui telah menyia-yiakan anaknya Syafei,
Istrinya Rapiah dan Ibu kandungnya. Di saat-saat terakhir ajalnya, Hanafi hanya
berpesan pada Ibunya agar anaknya di bimbing dengan baik, agar tidak seperti dirinya.
Roman “Salah Asuhan” Karya Abdoel Moeis ini, pada dasarnya
memiliki keutuhan dalam mengungkapkan berbagai persoalan dengan urutan rangkaian
peristiwa diceritakan dengan menarik, hingga
cerita yang digambarkan pengarang seolah-olah memberikan nilai atau
khasanah tersendiri mengenai kesusasteraan lama.
Di samping itu tema cerita,
menjadi sebuah transformasi
pengantar bagi pembaca yang ingin mendalami suatu budaya, adat istiadat
khususnya dalam cerita roman “Salah Asuhan” ini. Pasalnya hampir pada
setiap sub judul ditemukan hal-hal yang berhubungan dengan nilai-nilai yang
berhubungan dengan pola hidup masyarakat minangkabau. Salah satunya pada
kutipan berikut ini, “Tempat sirih, tempat meludah dan dapur”. Lain dari pada
itu, roman “Salah Asuhan” sebagai salah satu dimensi kekayaan culture masyarakat Indonesia untuk terus
dijaga dan dipertahankan sebagai aset bangsa.
Di luar itu, roman “Salah Asuhan” tidak bisa ditepis adalah
salah satu perjalanan hidup Abdoel Moeis dalam “pengembaraan” tampaknya Abdoel
tidak ingin persepsi tentang dirinya setelah muncul roman “Salah Asuhan” disalah artikan sebagai
pemazulan pada suatu budaya atau adat istiadat tertentu.
Oleh Karena itu, lewat karya besar salah satu pelopor Angkatan
Balai Pustaka ini, tampaknya suatu rahasia akan dibuka bahwa kini ia bukan
Hanafi di masa lalu. Dibandingkan dengan Novel pada zaman ini, Roman “Salah Asuhan”
memang jauh berada di bawahnya. Sebab buku ini tidak punya cukup keunikan dari aspek
estetika dan struktur kebahasaan, kecuali penekanan akan pesan yang ingin di sampaikan
pada pembaca. Oleh karena itu, tidak sedikit sastrawan yang melontarkan kritik
akan nilai sastrawi yang dikesampingkan Abdoel Moeis dalam buku ini.
Tentang penulis,
Aprilia Annisa di lahirkan di kota Jambi. Penulis menyukai Sastra
semenjak duduk di bangku SMP. Kini penulis bersekolah di SMA Unggul Sakti.