Sabtu, 25 Februari 2012

Abdoel Moeis dan Pemazulan Budaya




                                      Judul buku  : Salah Asuhan
                                      Pengarang   : Abdoel Moeis
                                      Penerbit      : Balai Pustaka
                                      Cetakan      : 39, 2009
                                      Tebal buku : vii + 273 halaman
Harga          : Rp. 35.000,-

          Hanafi, tokoh utama dalam novel “Salah Asuhan” karya Abdoel Moeis. Novel ini sangat terkenal di zamannya, karena nilai-nilai yang terkandung dalam cerita sangat mengakar dengan budaya adat istiadat yang berlaku pada masa itu. Karya ini pada awalnya merupakan sebuah transformasi lahirnya salah satu pembaharu kesusasteraan Indonesia mengenai pola pikir masyarakat tentang pertentangan budaya perkawinan antara masyarakat Barat dan Timur. Namun, sebagai pengarang roman “Salah Asuhan” Abdoel Moeis pada akhirnya  tetap memenangkan adat.
 
Melihat tema dan gaya bahasa yang dipakai Abdoel Moeis pada umumnya berbeda dengan pengarang-pengarang lama yang menceritakan tentang dewa-dewa, mambang, dan peri-peri yang umumnya bersifat fantasi. Karena kehadiran salah satu karyanya roman “Salah Asuhan” Abdoel Moeis pun di tempatkan sebagai salah satu pelopor Angkatan Balai Pustaka. 

          Abdoel Moeis dilahirkan di Solok, Sumatera Barat, tahun 1890 dan pernah belajar di Europese Lagere School dan selama 3 tahun mendapat pendidikan STOVIA. Sejak mula-mula terbit (1928) buku ini sudah mengalami berulang kali cetak ulang. Ini suatu pertanda bahwa roman tentang masyarakat ini mendapatkan pembaca yang cukup luas. 

          Selain merupakan bacaan umum teryata salah asuhan  juga digunakan untuk bacaan wajib para pelajar pada zaman itu. Namun hingga kini karya-karyanya seperti Surapati, Robert Anak Surapati dan Pertemuan Jodoh banyak digunakan Mahasiswa khususnya Jurusan Bahasa dan Sastra Indonesia sebagai salah satu referensi atau bahan acuan  untuk penelitian tugas akhir maupun tesis. 

          Ditinjau dari isi buku roman “Salah Asuhan” karya Abdoel Moeis, secara garis besar memberikan dampak psikologis terhadap perkembangan Kesusasteraan Indonesia, terutama dari segi isi yang mengajarkan seseorang bertindak dan bersikap tidak seperti yang dilakukan oleh tokoh utama “Hanafi”. Seharusnya tindakan dan sikap yang dilakukan oleh Hanafi dalam roman “Salah Asuhan” mencerminkan budi pekerti dan nilai-nilai luhur yang dapat diambil oleh pembaca. Seperti dalam kutipan berikut ini, ditampilkan begitu jelas dan lugas tentang perilaku Hanafi yang kebarat-baratan. 

“Sekonyong-konyong kedua belah tangannya sudah memeluk pinggang Corrie, dan sambil menekan dada gadis itu ke dadanya, diciumnyalah Corrie berkali-kali pada bibirnya, matanya, pada keningnya dan pipinya.” 

          Roman ini berkisah tentang seorang anak laki-laki bernama “Hanafi” yang dilahirkan  dan dibesarkan  oleh seorang Ibu yang pada saat itu tinggal di Solok. Ibu  Hanafi termasuk salah satu keluarga yang berkecukupan pada masa itu. Karena keinginan seorang Ibu yang berharap anak satu-satunya menjadi orang pandai, melebihi orang-orang yang ada di kampungnya, Hanafi pun di sekolahkan Ibunya di Betawi, dan tinggal pada salah satu rumah milik orang Belanda. Namun naasnya, karena sudah merupakan sebuah kebiasaan menjalani hidup dengan gaya Eropa, Hanafi menganggap pola hidup yang sudah ia lewati sebagai hal yang lumrah jika suatu saat ia bawa ketanah kelahirannya. Sebagai bukti, ia tidak mempersoalkan jika seorang wanita tidak menutup auratnya. Ia malah mengangap itu sebuah hal yang lazim. Hal-hal yang berhubungan dengan sopan santun, terasa begitu jauh jika itu menjadi sebuah perdebatan antara Hanafi dan Corrie,  wanita keturunan Eropa. Seperti dalam kutipan berikut.

          ” Hanafi! Engkau juga yang mulai memperbincangkan tentang adat lembaga serta tertib kesopanan masing-masing bangsa; engkau pun juga yang tak suka mengindahkan atau mengakui atas adanya perbedaan adat lembaga antara bangsa dengan bangsa. Setiap kita bertukar pikiran tentang hal itu, pada akhirnya engkau senantiasa berkecil hati seolah-olah malulah engkau, bahwa engkau masuk golongan Bumiputra, yang kau sangka bahwa aku menghinakannya. Bahwa sesunguhnya kulitku berwarna pula, Ibuku perempuan Bumiputra sejati, meskipun diriku masuk pada golongan bangsa Eropa. Dan sementara ...fasal hina-menghina Bumiputra lebih banyak terdengar dari mulutmu sendiri dari pada dari mulutku. Kita akan memperkatakan...”

          Sekilas  dari kutipan di atas, Hanafi selalu mengidolakan atau membanggakan diri jika budaya Eropa yang sudah ia lalui beberapa tahun di betawi merupakan sebuah keharusan yang ada dalam kehidupannya. Termasuk pada saat ia harus kembali ke solok dan menjadi klerk di kantor Asisten Residen Solok. Hingga tak lama pun ia diangkat menjadi Komis.

           Tabiat Hanafi yang kebarat-baratan mengangap suasana yang ia tempati dirumah Ibunya sebagai hal yang kolot. Seperti adanya tempat sirih, tempat meludah dan dapur merupakan pantangan bagi Hanafi. Ia malah mengatakan Ibunya kampungan. Tentunya dengan sikap Hanafi yang sangat bertentangan dengan Ibunya telah membuat hati Ibunya sedih dan kecewa. 

          Di samping itu Hanafi hanya mau bergaul dengan orang yang menurutnya pantas untuk ia jadikan teman bicara, khususnya yang memiliki kecakapan dalam berbahasa Belanda. Parahnya, Hanafi mengangap adat lembaga sebagai “kuno” agama Islam “tahayul”.

          Akibat sifat dan sikapnya yang suka merendahkan, ia tersisih dalam pergaulan. Tak ada satu pun warga masyarakat yang mau mendekatinya, hanya Ibunyalah satu-satunya orang terdekat  sebagai teman dekatnya. Tak ada satu pun yang harus ia hormati dalam keluarga besarnya termasuk mamaknya, saudara kandung Ibunya. 

          Padahal biaya pendidikannya di Betawi tidak hanya hasil dari uang pemberian Ibunya, malahan uang gaji mamaknya yang disisihkan untuknya. Hanafi tetap tak menghiraukan jika Ibunya menjelaskan asal muasal kenapa ia bisa sukses bergaul dan sekolah dengan orang Eropa di Betawi. Tidak hanya itu, Hanafi pun berkeinginan untuk menikahi salah seorang wanita berkebangsaan Eropa yang sudah jelas melanggar adat dan budaya yang sudah dipegang teguh oleh kedua oarang tuanya. Karena jika pernihakan itu terjadi akan berdampak buruk bagi mereka berdua. Secara tidak langsung mereka harus melepas nama kebangsaannya. 

          Namun di tengah-tengah cerita mereka bertemu dan menikah, tapi pada akhirnya pernikahan mereka kandas akibat ulah Hanafi menuduh Corrie melakukan zina, dan memutuskan untuk bercerai. Namun, tak lama kemudian Hanafi pun memutuskan menikahi Rapiah, wanita pilihan Ibunya. Pernikahan mereka dikarunia seorang anak laki-laki bernama Syafei, tapi harapan pernikahan Rapiah tak semulus keinginannya untuk dicintai, dihargai, dihormati, disayang. Malahan justru sebaliknya Rapiah selalu mendapat tekanan, bentakan seperti pembantu. Namun Rapiah tetap bertahan demi anaknya Syafei dan Ibu mertuanya. 

          Pada akhir cerita Hanafi mendapatkan penyakit keras yang sukar disembuhkan dokter, hingga dengan kata-kata terakhirnya ia menyesali apa yang telah ia perbuat semasa ia hidup. Ia mengakui telah menyia-yiakan anaknya Syafei, Istrinya Rapiah dan Ibu kandungnya. Di saat-saat terakhir ajalnya, Hanafi hanya berpesan pada Ibunya agar anaknya di bimbing dengan  baik, agar tidak seperti dirinya.

          Roman “Salah Asuhan” Karya Abdoel Moeis ini, pada dasarnya memiliki keutuhan dalam mengungkapkan berbagai persoalan dengan urutan rangkaian peristiwa diceritakan dengan menarik, hingga  cerita yang digambarkan pengarang seolah-olah memberikan nilai atau khasanah tersendiri mengenai kesusasteraan lama.

          Di samping itu tema cerita,  menjadi sebuah transformasi  pengantar bagi pembaca yang ingin mendalami suatu budaya, adat istiadat khususnya dalam cerita  roman “Salah Asuhan ini. Pasalnya hampir pada setiap sub judul ditemukan hal-hal yang berhubungan dengan nilai-nilai yang berhubungan dengan pola hidup masyarakat minangkabau. Salah satunya pada kutipan berikut ini, “Tempat sirih, tempat meludah dan dapur”. Lain dari pada itu, roman “Salah Asuhan” sebagai salah satu dimensi kekayaan culture masyarakat Indonesia untuk terus dijaga dan dipertahankan sebagai aset bangsa.

          Di luar itu, roman “Salah Asuhan” tidak bisa ditepis adalah salah satu perjalanan hidup Abdoel Moeis dalam “pengembaraan” tampaknya Abdoel tidak ingin persepsi tentang dirinya setelah muncul roman Salah Asuhan disalah artikan sebagai pemazulan pada suatu budaya atau adat istiadat tertentu. 

          Oleh Karena itu, lewat karya besar salah satu pelopor Angkatan Balai Pustaka ini, tampaknya suatu rahasia akan dibuka bahwa kini ia bukan Hanafi di masa lalu. Dibandingkan dengan Novel pada zaman ini, Roman “Salah Asuhan” memang jauh berada di bawahnya. Sebab buku ini tidak punya cukup keunikan dari aspek estetika dan struktur kebahasaan, kecuali penekanan akan pesan yang ingin di sampaikan pada pembaca. Oleh karena itu, tidak sedikit sastrawan yang melontarkan kritik akan nilai sastrawi yang dikesampingkan Abdoel Moeis dalam buku ini.

Tentang penulis,
          Aprilia Annisa di lahirkan di kota Jambi. Penulis menyukai Sastra semenjak duduk di bangku SMP. Kini penulis bersekolah di SMA Unggul Sakti.    

Kamis, 23 Februari 2012

Bahan Ujian Praktikum Biologi


 XII IPA
SMA Unggul Sakti, 2011/2012
1.       Penggunaan Preparat sel tumbuhan
Yang dibawa Individu :
a.       1 siung bawang merah
b.      1 silet
Yang disiapkan kelas :
a.       Cover glass
b.      4 aquades cup
c.       4 tisu gulung

2.       Uji kandungan makanan
Yang dibawa Individu :
a.       2 sendok nasi
b.      1 buah pisang
c.       2 sendok minyak makan
d.      1 tahu putih mentah
e.      2 kertas HVS bersih, F4
Yang disiapkan kelas :
a.       4 botol obat merah
b.      16 cup plastik kecil
c.       16 sendok plastik
d.      1 sabun cuci piring
e.      4 busa pencuci piring

3.       Klasifikasi kunci determinasi/kunci dikotomi pada tumbuhan
-          Kembang sepatu dan mawar : Bag. Batang, akar, daun, bunga
-          Tebu dan jagung : Bag. Batang, akar, daun

Rabu, 15 Februari 2012

Makalah Kewarganegaraan


Tugas Makalah Kewarganegaraan
XII IPA
SMA Unggul Sakti Jambi

-          Judul
-          Kata Pengantar
-          Daftar Isi
-          Bab I    : Pendahuluan
1.1              Latar Belakang masalah
1.2              Perumusan masalah
1.3              Tujuan penulisan
1.4              Manfaat penulisan
1.5              Metode penelitian (Jika ada)
-          Bab II  : Pembahasan
2.1       Makna
2.2       Kendala yang dihadapi
2.3       Upaya penyelesaian kendala yang ada
-          Bab III : Penutup
3.1       Kesimpulan
3.2       Saran
-          Lampiran
-          Daftar Pustaka

Pilihan judul :
1.      Pengaruh globalisasi ekonomi dan pasar bebas dalam bermasyarakat, bernegara dan berbangsa
2.      Pengaruh Politik dalam bermasyarakat, bernegara dan berbangsa
3.      Pengaruh Kebudayaan dalam bermasyarakat, bernegara dan berbangsa
4.      Pengaruh Hankam dalam bermasyarakat, bernegara dan berbangsa
5.      Pengaruh Teknologi dalam bermasyarakat, bernegara dan berbangsa
6.      Dampak globalisasi terhadap kehidupan
7.      Pengaruh globalisasi terhadap kebijakan politik luar negeri Indonesia

Syarat :
1.      Pilihan huruf        : Arial, Times New Roman, Bookman Old Style
2.      Space                    : min 1, max 2
3.      Paper size             : A4
4.      Send to                  : Ardie76@gmail.com
5.      Sumber                 : Internet, RPUL, Buku Paket/LKS, Buku Sosiologi, dll.
Note : Batas penyerahan makalah, tanggal 10 maret 2012